top of page

Penetrasi Istilah Baru Dalam Bahasa Indonesia



Apakah kalian pernah dengar kata2 ini?

GAWAI - gadget

GALAT - error

UNDUH - download

DARING - online

LURING - offline

LANTATUR - drive thru

SWAFOTO - selfie


Yak, kata2 diatas adalah beberapa istilah baru dalam bahasa indonesia yang khususnya berkaitan dengan gadget/IT yang mungkin kalian baru pertama kali dengar.


Beberapa orang berpendapat kalau sebaiknya kita menggunakan kata2 tersebut daripada menggunakan istilah nya yang seringnya kita sebut dalam bahasa inggris. Sebenarnya ide yang cukup menarik, karena dengan menggunakan bahasa indonesia, kita menjadi lebih nasionalis, di sisi lain kita melestarikan bahasa indonesia daripada menggunakan bahasa lain.


Berbicara sedikit tentang bahasa, adalah merupakan pembeda antara kita manusia dengan hewan. Bahasa adalah ujung tombak dari sebuah peradaban, dengan bahasa memungkinkan kita untuk berkomunikasi, menyampaikan, ide dan gagasan.


Pembahasan tentang bahasa ini, mungkin aku akan bahas lebih mendalam di video lainnya karena merupakan pembahasan yang sangat menarik dan topik yang memang aku sangat suka.


Bahasa sebagai Budaya ?


Sebuah disclaimer dulu, semua yang kutulis disini merupakan buah pemikiranku sendiri, berdasarkan pengalaman dan pengamatanku sendiri. Semua opini yang aku tulis di artikel ini merupakan opini pribadi dengan pengetahuanku yang sangat terbatas.


Isitilah2 diatas merupakan istilah baru dan sudah masuk ke dalam KBBI meskipun banyak diantara kita belum tau dan jika tau pun, mungkin tidak menggunakan bahasa tersebut karena terdengar asing.


Inti dari bahasa sebenarnya alat komunikasi dan yang paling penting dari sebuah bahasa adalah dimengerti oleh lawan bicara. Bahasa yang kumaksud ini bukan cuma bahasa verbal saja, tapi termasuk bahasa tubuh, bahasa isyarat (untuk berbicara dengan misalkan kaum tuna rungu), bisa juga merupakan bahasa SOS (seperti yang digunakan kalau kita tersesat dan hanya punya sebuah lampu untuk berkomunikasi), atau bisa juga bahasa biner (untuk berbicara dengan komputer dan perangkat-perangkat elektronik), dan mungkin masih banyak sekali bahasa yang tidak aku ketahui di muka bumi ini.


Bahasa tidak ada gunanya jika lawan bicara kita tidak mengerti. Sama seperti penggunaan kata-kata ku tadi diatas. Mau nasionalis setinggi apa, secinta apa kita dengan negara dan bahasa kita sendiri, tidak akan berguna.


Bahasa merupakan sebuah hasil budaya yang berjalan selama bertahun-tahun. Sama seperti paham, ideologi, dan agama. Bahasa itu di “Import” ke negara2 lain sebagai produk hasil budaya dan ilmu pengetahuan.


Dalam kasus diatas, kita bisa mengenal istilah download, Handphone, Gadget, selfie, dll, dikarenakan perkembangan teknologi yang membawa bahasa tersebut memang berasal dari negara2 yang menggunakan bahasa inggris sebagai basis komunikasi mereka.


Simplenya, coba bayangkan jika misalkan Indonesia merupakan central dari teknologi komputer, handphone, patent2, software, dan perkembangan IT lainnya, maka sangat mungkin jika istilah unduh, swafoto, gawai, dll itu digunakan secara worldwide. Bayangkan jika Tim cook sedang presentasi nya dengan berkata “Lets introduce our newest, and greatest gawai we’ve ever made, gawai 17 pro !!”


Selain dari perkembangan teknologi dan bahasa yang menyertainya, bahasa juga disebarkan melalui literatur seperti buku, karya ilmiah, blog, atau tulisan formal produk politik (misalnya reformasi > reform, demokrasi > democracy, dll). Yang akar katanya hampir semua berasal dari bahasa inggris. Terutama di jaman modern ini, hampir semua karya ilmiah pun diterbitkan dalam bahasa inggris yang secara tidak langsung, menyebarkan bahasa itu sendiri.


Selain literatur, seni juga merupakan media yang sangat kuat dalam menyebarkan bahasa. Seni musik, puisi/pantun dan seni game khususnya. Aku sendiri banyak sekali belajar bahasa inggris dari game. Game merupakan motivasi pertamaku untuk belajar.


Atau contohnya seperti kemarin, ada konser taylor swift yang sangat booming. Apakah yang dia hasilkan hanyalah seni musik saja? tentu tidak. Dengan lagu2 dia yang menggunakan bahasa inggris, membuat orang yang tidak bisa berbahasa inggris dan tidak tertarik berbahasa inggris pun pasti akan belajar liriknya, dan bernyanyi bersama.


Trus konser BTS, Red Velvet, dan banyak K-band lainnya (juga termasuk Lagu-lagu jepang), apakah yang mereka tampilkan hanya seni musik dan seni tarinya ? TENTU TIDAK. Coba kalian perhatikan deh di setiap lyric lagu korea/jepang, mereka mungkin >50% menggunakan bahasa mereka sendiri, dan diselipkan bahasa inggris untuk beberapa bait atau kata2 atau skit nya saja. Dengan tujuan apa? Tentu saja untuk penetrasi market yang menggunakan bahasa inggris sebagai primary language mereka supaya mereka tertarik, atau setidaknya ada sedikit kata2 yang mereka paham dari lagu tersebut untuk bisa belajar lirik lengkapnya.


Selain seni musik, game juga memberikan peran yang sangat besar sekali dalam persebaran budaya bahasa ini. Aku sendiri belajar bahasa inggris bisa dibilang 75% nya dimulai dari game. Aku mencari walkthrough / panduan game di internet pun juga terpaksa harus menggunakan bahasa inggris, karena selain bahasa yang digunakan di game, juga artikel yang menulis panduan hanya tersedia dalam bahasa inggris, jadi ya mau gak mau aku belajar bahasa inggris secara tidak sadar.


Dan jika kita lihat dari sudut pandang lain, masih banyak sekali yang bisa dibahas tentang penyebaran bahasa melalui media2 ini. Selain bahasa, ada juga yang namanya “istilah”. Aku tidak akan bahas terlalu jauh, tapi contoh2 dari istilah ini yang paling mudah adalah seperti penamaan nama ilmiah untuk mahkluk hidup seperti oryza sativa (padi), Zea mays (jagung), Allium sativum (bawang putih). Penamanaan tersebut menggunakan bahasa latin. Meski untuk spoken word, bahasa latin sudah sangat sedikit yang menggunakan, tetapi dalam penggunaan nya sebagai nama ilmiah mungkin akan bertahan lebih lama sampai kapanpun.



Lalu bagaimana kita harus menyikapi, jika nasionalis merupakan landasan pikiran dan sudut pandang yang kita pilih?



Menurutku, bahasa itu tidak seperti hukum yang bisa ditulis dan mengikat, juga tidak bisa dipaksakan. Tidak mungkin kan kita dihukum karena berbahasa / menggunakan istilah bahasa inggris?


Menurutku memaksakan untuk menggunakan istilah2 diatas dalam bahasa kita itu sangat tidak mungkin karena bahasa merupakan kesepakatan dan berjalan secara organic.


Jika kita berandai untuk memaksakan menggunakan full 100% bahasa indonesia pun untuk istilah2 diatas, aku sangat yakin tidak akan bisa bertahan lama, karena sifat dari bahasa itu sendiri, yaitu jika hanya digunakan di local are saja, pasti perlahan lama akan hilang dengan sendirinya. Sudah banyak sekali kasusnya, menurut salah satu sumber, indonesia memiliki 715 bahasa daerah atau bahkan lebih. Tetapi kenyataanya, hanya segelintir saja bahasa yang digunakan sehari-hari.


Dalam lingkup yang lebih besar lagi, Bahasa indonesia sebagai lingua franca nya nusantara pada saat ini, jika hanya digunakan di dalam negeri saja, sudah pasti akan “hilang” dengan cara berasimilasi dengan bahasa lainnya, terutama bahasa inggris. Jika tidak mau dikatakan hilang, mungkin kata yang lebih halus untuk menyebutnya adalah berevolusi.


Jika kita memang berniat untuk mempromosikan bahasa Indonesia untuk bisa digunakan secara nasional dan menyeluruh, dengan menghilangkan istilah2 bahasa inggris, satu-satunya cara adalah dengan meng”impor” bahasa indonesia (bahkan kata2 impor sendiri adalah dari bahasa inggris import). Dengan cara apa?


Belajar dari bagaimana bahasa inggris bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia, yaitu dengan expansi, penjajahan, dan perbudakan, itu merupakan salah satu cara, tetapi di jaman modern ini, akan sangat sulit karena membutuhkan resource yang sangat besar, terlebih lagi di era globalisasi ini, perang fisik sudah hampir tidak mungkin seperti dahulu lagi dikarenakan semua negara sudah terkoneksi dan saling ketergantungan.


Yang bisa kita lakukan, adalah menggunakan cara-cara “soft” seperti yang sudah aku tulis diatas, yaitu dengan pendekatan seni dan literasi. Research dan Development menjadi tulang punggung utama untuk bisa meng’export’ bahasa indonesia. Melalui Jurnal ilmiah, buku, dan karya literasi lainnya. Tantangan disini tentunya adalah “Bagaimana membuat orang yang tidak berbahasa indonesia sampai rela belajar bahasa indonesia untuk bisa membaca researh paper tersebut” dan itu adalah tugas yang sangat2 berat. Apalagi jika melihat pendidikan yang rata-rata masih rendah, serta budget untuk R&D di indonesia sangatlah kecil.


Cara yang termudah adalah, melalui seni musik seperti yang dilakukan korea/jepang. Tetapi tentunya pelaku-pelaku seni sangat butuh didukung oleh pemerintah. Jika aku ambil contoh, sama dengan cara thailand mempenetrasi budayanya, melalui makanannya.


Berkaca dari argumen ku diatas, bagaimana masa depan bahasa indonesia dan bahasa di dunia secara keseluruhan ?


Menurutku Bahasa indonesia merupakan salah satu contoh yang sudah cukup berhasil menjadi lingua franca dari bahasa-bahasa lokal di nusantara yang berjumlah ratusan bahkan mungkin ribuan tersebut. Bahasa indonesia tidak akan hilang dalam waktu dekat selama bangsa indonesia masih ada, justru bahasa-bahasa lokal yang kemungkinan besar akan hilang, apalagi jika tidak memiliki written language nya, apalagi jika generasi tua tidak mewariskan ke anak cucunya. Karena tantangan terberatnya adalah selain mewariskan, juga memberikan “nilai” untuk orang yang bisa memahami bahasa tersebut.


Dari beberapa sumber yang aku pernah baca dan lihat, fenomena asimilasi bahasa dan hilangnya bahasa lokal ini terjadi di seluruh dunia, bukan hanya di indonesia saja. bahkan di Jepang, gen Z nya sekarang banyak sekali memakai kata serapan alih2 menggunakan bahasa mereka sendiri dengan kanji dan hiragana nya.


Bahasa melayu lebih parah lagi karena makin sedikit yang menggunakan. Khususnya anak-anak kecil di singapore, sekarang sudah belajar bahasa inggris atau bahasa mandarin saja. Bahasa melayu sebagai mother tongue mulai ditinggalkan.


Untuk bahasa inggris, aku tidak akan uraikan terlalu jauh, karena akupun bukan orang sastra. tapi aku bisa bilang, kemungkinan besar bahasa inggris (yang sudah berasimilasi dengan bahasa setempat) akan menjadi lingua franca berikutnya di muka bumi ini, sebelum terjadi yang aku istilahkan sebagai “The end of human language” atau Akhir dari bahasa manusia.


Secara singkatnya, melihat dari perkembangan teknologi digital dan artificial intelligence, hanya akan tersisa 2 bahasa di muka bumi ini, atau bahkan di alam semesta, yaitu bahasa matematika dan bahasa biner saja.


Untuk pembahasan lebih lanjut lagi mengenai bahasa matematika yang aku juga sangat exciting dengan matematika, dan bahasa biner, kita akan bertemu di artikel aku yang lain lagi ya.


Yedija Luhur 2024

1 view0 comments

Recent Posts

See All

Comments


bottom of page